DUA WALI QUTHB; GURU SEKUMPUL DAN HABIB ABDUL QADIR
Pernah suatu waktu Habib Anis bin Alwi al-Habsyi Solo berkunjung ke tempat al-Quthb al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf di Jeddah. Al-Habib Abdul Qadir Assegaf berkata: "Setiap wali di seluruh dunia berada di bawah telapak kakiku (di dalam kerajaanku, sebagaimana pernah juga diucapkan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani)."
Kemudian Habib Anis bertanya: "Kalau Guru Sekumpul (TGKH. Zaini Abdul Ghani)?"
"Tidak ada dalam kerajaanku," jawab al-Habib Abdul Qadir.
Lalu Habib Anis berkata: "Saya pernah berkunjung ke tempat Guru Sekumpul. Di sana dihadiri banyak jamaah dan membacakan kitab-kitab yang banyak dibaca para habaib juga." Dua kali Habib Anis menanyakan sosok Guru Sekumpul, tapi tetap dijawab "Tidak ada" oleh al-Habib Abdul Qadir.
Dan untuk ketiga kalinya Habib Anis menanyakan hal yang sama kepada al-Habib Abdul Qadir. Sejenak kemudian al-Habib Abdul Qadir terdiam, lalu berkata: "Ada, tapi beliau mempunyai kerajaan tersendiri dan lengkap dengan bawahan semuanya. Dan langsung Rasulullah Saw. yang memberikan kerajaan tersebut."
Suatu ketika ada seseorang yang bertanya kepada Guru Sekumpul tentang sosok al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf Jeddah. Dan Tuan Guru Ijai (Guru Sekumpul) menjawab: "Al-Habib Abdul Qadir itu wali Quthbnya dunia.
Rabu, 28 Oktober 2015
Kamis, 08 Oktober 2015
Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana.
Kau ini bagaimana..
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berfikir, Aku berfikir kau tuduh aku kafir
Aku harus bagaimana…
Kau suruh aku bergeraklah, Aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah
Aku diam saja kau waspadai
Kau ini bagaimana...
Kau suruh aku memegang prinsip
Aku memegang prinsip, Kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, Aku toleran kau bilang aku plin-plan
Aku harus bagaimana…
Kau suruh aku maju, Aku maju kau serimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, Aku bekerja kau ganggu aku.
Kau ini bagaimana...
Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, Langkahmu tak jelas arahnya
Aku harus bagaimana..
Aku kau suruh menghormati hukum, Kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, Kau mencontohkan yang lain
Kau ini bagaimana...
Kau bilang Tuhan sangat dekat
Kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, Kau ajak aku setiap hari bertikai
Aku harus bagaimana...
Aku kau suruh membangun, Aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, Aku menabung kau menghabiskannya
Kau ini bagaimana...
Kau suruh aku menggarap sawah, Sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, Aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah
Aku harus bagaimana...
Aku kau larang berjudi, Permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggungjawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bis Shawab
Kau ini bagaimana..
Aku kau suruh jujur, Aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, Aku sabar kau injak tengkukku
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, Sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, Aku sapa saja kau merasa terganggu
Kau ini bagaimana..
Kau bilang bicaralah, Aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, Aku bungkam kau tuduh aku apatis
Aku harus bagaimana...
Kau bilang kritiklah, Aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya
Aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja
Kau ini bagaimana..
Aku bilang terserah kau, Kau tak mau
Aku bilang terserah kita, Kau tak suka
Aku bilang terserah aku, Kau memakiku
Kau ini bagaimana, Atau aku harus bagaimana...
Kau ini bagaimana..
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berfikir, Aku berfikir kau tuduh aku kafir
Aku harus bagaimana…
Kau suruh aku bergeraklah, Aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah
Aku diam saja kau waspadai
Kau ini bagaimana...
Kau suruh aku memegang prinsip
Aku memegang prinsip, Kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, Aku toleran kau bilang aku plin-plan
Aku harus bagaimana…
Kau suruh aku maju, Aku maju kau serimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, Aku bekerja kau ganggu aku.
Kau ini bagaimana...
Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, Langkahmu tak jelas arahnya
Aku harus bagaimana..
Aku kau suruh menghormati hukum, Kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, Kau mencontohkan yang lain
Kau ini bagaimana...
Kau bilang Tuhan sangat dekat
Kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, Kau ajak aku setiap hari bertikai
Aku harus bagaimana...
Aku kau suruh membangun, Aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, Aku menabung kau menghabiskannya
Kau ini bagaimana...
Kau suruh aku menggarap sawah, Sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, Aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah
Aku harus bagaimana...
Aku kau larang berjudi, Permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggungjawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bis Shawab
Kau ini bagaimana..
Aku kau suruh jujur, Aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, Aku sabar kau injak tengkukku
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, Sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, Aku sapa saja kau merasa terganggu
Kau ini bagaimana..
Kau bilang bicaralah, Aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, Aku bungkam kau tuduh aku apatis
Aku harus bagaimana...
Kau bilang kritiklah, Aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya
Aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja
Kau ini bagaimana..
Aku bilang terserah kau, Kau tak mau
Aku bilang terserah kita, Kau tak suka
Aku bilang terserah aku, Kau memakiku
Kau ini bagaimana, Atau aku harus bagaimana...
KH. Musthofa Bisri '1987.
...
'Audio' klik>>> Clink!
Langganan:
Postingan (Atom)

